Menyelesaikan Masalah menggunakan Metode Need-Know-How-Solve

Berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang kian kompleks tentu memerlukan metode untuk menyelesaikannya. Salah satu metode untuk memecahkan suatu permasalahan yaitu dengan menggunakan Metode Need-Know-How-Solve. Metode ini merupakan metode yang memudahkan kita untuk mengatasi masalah kompleks dengan langkah sistematis, menghindari menyelesaikan masalah yang salah, merumuskan proses penyelesaian masalah, dan membuat nilai lebih baik, meski jawaban akhirnya tidak tepat.

Langkah-langkah dalam menggunakan metode ini yaitu :

  • Need  : berisi apa yang dicari atau apa yang harus dijawab
  • Know : berisi apa yang diketahui untuk menjawab persoalan
  • How   : memodelkan dan menjelaskan proses penyelesaian masalah
  • Solve  : melakukan perhitungan untuk mencari jawaban

Untuk lebih memahami metode tersebut, mari kita selesaikan beberapa contoh permasalahan di bawah ini menggunakan Metode Need-Know-How-Solve.

Problem 1

langkat1-Alih-fungsi-lahan-menjadi-perkebunan-sawit-di-kawasan-TNGL-dilakukan-oleh-2-perusahaan-yang-sudah-beroperasi-15-tahun-Ayat-S-K.jpg

perkebunan-sawit-di-kawasan-TNGL-dilakukan-oleh-2-perusahaan-yang-sudah-beroperasi-15-tahun-Ayat-S-K.jpg

Seorang investor agroindustri di Sumatera ingin membeli lahan perkebunan seluas mungkin dengan ukuran bujursangkar. Modal investasinya adalah 320 juta rupiah. Harga lahan dan pengerjaannya adalah 1 Milyar per hektar. Biaya konstruksi pagar batas lahan adalah 1 juta rupiah per meter. Berapa besar ukuran lahan yang dapat dibeli?

(Diadaptasi dari soal dalam Kosky et al)

Permasalahan tersebut akan diselesaikan dengan Metode Need-Know-How-Solve :

  • Need

Ukuran lahan perkebunan seluas mungkin yang dapat dibeli oleh investor

  • Know

– Modal investasi 320 juta rupiah

– Harga lahan dan pengerjaan 1 Milyar per hektar

– Biaya konstruksi pagar batas lahan 1 juta rupiah per 100 meter.

  • How

– Keliling       = 4x dan Luas = x2

– Total biaya = Harga lahan + Biaya konstruksi pagar = Luas lahan x 1.000.000.000/

hektar x [faktor konversi] + panjang pagar x 1 juta

  • Solve

Berdasarkan persamaan,

solve1.png

Karena nilai x tidak negatif, maka dipilih x = 40 m

Maka,besar lahan yang dapat dibeli adalah
L = x2
L = (40 m)2
L = 1.600 m2

 

Problem 2

Untitled.png

http://engineercommunity.blogspot.co.id/2010/04/jembatan-gantung-perdesaan.html

Kabel baja vertikal digunakan untuk menyangga bagian jalan dalam sebuah konstruksi jembatan gantung. Salah satu kabel vertikal yang panjangnya 4,00 m digunakan untuk menyangga beban 20,0 ton. Akibat beban tersebut, kabel baja bertambah panjang 20,0 cm. Jika beban yang sama disangga oleh kabel baja jenis yang sama dengan panjang 8,00 m. berapa besar pertambahan panjangnya ?

Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan Metode Need-Know-How-Solve :

  • Need

Besar pertambahan panjang, jika panjang kabel baja yang digunakan adalah 8,00 m.

  • Know

– Panjang awal kabel baja                 : 4,00 m

– Beban yang digantungkan             : 20,00 ton

– Pertambahan panjang                     : 20,00 cm

– Panjang kabel yang akan dites      : 8,00 m

  • How

– Pertambahan panjang kabel         : 20,00 cm = 0,2m

– Beban yang digantungkan             : 20,00 ton = 20.000 kg = 200.000 N

  • Solve

solve2.png

Problem 3

images (2).jpg

http://lh5.ggpht.com/-R74nGYeNZIs/VJDPR7cpTKI/AAAAAAAABos/GiBvG9ikHc8/s640/20141103_135154.jpg

Berapa jumlah kios cukur rambut pria (barbershop) di Kota Bandung (jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa) ?

Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan Metode Need-Know-How-Solve :

  • Need

Jumlah kios cukur pria (barbershop) di Kota bandung

  • Know

Jumlah penduduk Kota Bandung sekitar 2,5 juta jiwa

  • How

– Menurut data yang dikutip dari http://jabarprov.go.id/index.php/pages/id/75 , jumlah penduduk laki-laki di Kota Bandung yaitu 51,10% atau sekitar 1.296.250 jiwa

– Asumsikan penduduk laki-laki di Kota Bandung rata-rata mencukur rambutnya sebanyak 1x dalam 1 bulan

– Asumsikan untuk setiap harinya barbershop di Kota Bandung melayani 10 pelanggan untuk setiap pencukur.

– Asumsikan untuk setiap barbershop terdapat 3 pencukur.

  • Solve

solve3.png

Itulah beberapa contoh menyelesaikan masalah menggunakan Metode Need-Know-How-Solve. Selamat mencoba dengan permasalahan yang lainnya 🙂

Iklan

Resource Recycling System untuk Bandung (BUKAN) Lautan Sampah

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota Bandung beserta masyarakat untuk mengatasi permasalahan sampah yang tak kunjung terselesaikan. Cara pengolahan yang umum digunakan di Indonesia adalah membawa sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sedangkan sebagian kecil didaur ulang. Cara tersebut masih bisa digunakan untuk daerah yang lahannya cukup luas, tetapi kurang efektif dikembangkan di daerah dengan luas lahan terbatas seperti di Kota Bandung. Selain itu juga akan mengurangi keindahan alam Kota bandung.  Cara pengolahan sampah lainnya adalah insenerasi, yaitu cara pengolahan sampah yang digunakan secara komersial. Melalui cara ini, sampah dapat diolah dalam volume besar. Tetapi cara ini masih muncul masalah lingkungan yang berdampak pada kesehatan. Di samping itu dibutuhkan investasi yang sangat besar, teknologi yang rumit dengan nilai ekonomi yang minim, dan saat ini sangat dibatasi penggunaannya di negara maju.

Universitas riset terkemuka di Jepang, Tokyo Institute of Technology, memperkenalkan teknologi Hydrothermal yang diberi nama RRS (Resource Recycling System). RSS memanfaatkan tekanan dan uap suhu tinggi (30 atm, 200ºC) yang lebih ramah lingkungan, relatif murah, dan lebih sederhana teknologinya, sehingga kandungan lokal komponennya bisa mendekati 90%. Artinya, uang tidak perlu dibelanjakan ke negara lain.

Teknologi ini sesuai dengan kebutuhan pengolahan sampah di Indonesia yang umumnya terdiri dari 80% bahan organik dan campuran plastik. Sampah campuran ini dapat menghasilkan bahan bakar padat yang bisa dicampur (co-firing) dengan batu bara yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pada pabrik semen, pembangkit PLTU, dan keperluan rumah tangga. Dengan nilai ekonomi yang dimilikinya, investasi yang sudah ditanam dapat kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Proses awal pada Resource Recycling System adalah penghancuran, pengeringan, dan penghilangan bau yang dilakukan bersamaan dengan menggunakan Multi-purpose Material Conversion System (MMCS). MMCS menggunakan gas bertekanan dengan suhu tinggi. Karena hanya menggunakan uap air panas dan uap bertekanan tinggi, alat pengolah sampah ini tidak menghasilkan zat kimia berbahaya. Selain itu, bau yang menyengat pada sampah juga hilang dan bakteri-bakteri mati karena tingginya suhu. Hasil pengolahan sampah ini dapat dijadikan bahan bakar, baik untuk pembangkit listrik tenaga uap, pabrik semen sebagai campuran batu bara, maupun untuk kebutuhan rumah tangga berupa briket.

Diharapkan RSS dapat menjadi-solusi permasalahan sampah di Indonesia dan upaya mendorong pengembangan teknologi, industri dan penelitian di bidang persampahan di Indonesia. Mari terus ciptakan ide dan berinovasi dalam mengolah sampah agar tercipta Bandung (BUKAN) Lautan Sampah.

Opsi →

Norma ↓

Tetap menjalankan keputusan.

Menunggu respon masyarakat daerah lain.

Meminta partisipasi pemerintah.

Tidak menjalankan keputusan.

Memegang penting keselamatan, kesehjateraan, dan kesehatan masyarakat.

Ya

Proses yang ramah lingkungan dan hemat energi

Ya

Mempertimbangkan keputusan masyarakat terhadap segala bidang.

Ya

Pemerintah berperan besar dalam berjalannya suatu program besar di masyarakat

Tidak

Masalah besar harus segera diselesaikan

Melakukan program hanya terbatas pada kemampuan kompetensi Anda.

Mungkin

Bagaimanapun harus dilakukan bersama orang-orang dengan kemampuan kompetensi yang lebih

Ya

Seluruh masyarakat turut berperan

Ya

Pemerintah dapat membantu dalam pelaksanaan program

Mungkin

Jika batas kemampuan saya tidak cukup untuk melaksanakan program dengan baik

Mengeluarkan pernyataan public secara objektif dan jujur.

Ya

Menyampaikan berita agar masyarakat mengetahui tujuan dan dapat berpartisipasi

Tidak

Pernyataan public secara objektif dan jujur perlu dilakukan segera

Tidak

Mencegah kesubjektifan dari pemerintah dan terlalu lama apabila harus menunggu

Tidak

Masyarakat perlu pernyataan public yang objektif dan jujur

Total

Ya          : 2

Tidak      : –

Mungkin : 1

Ya          : 2

Tidak      : 1

Mungkin : –

Ya          : 2

Tidak      : 1

Mungkin : –

Ya          : –

Tidak      : 2

Mungkin : 1

 

Sumber :

http://olahsampah.com/index.php/component/content/article/15-pengelolaan-sampah/31-konversi-sampah-perkotaan-menjadi-bahan-bakar

https://www.shimane-u.ac.jp/en/strategy/

BANDUNG (BUKAN) LAUTAN SAMPAH

Bandung Paris Van Java. Kota Bandung sudah tersohor ke berbagai penjuru negeri, dari mulai kuliner, keindahan alam, perbelanjaan hingga tempat wisata. Ramai orang mengunjungi Kota tercinta ini, entah itu untuk keperluan pekerjaan,pendidikan, liburan keluarga atau hanya untuk sekedar explore Bandung dan mengunggah hasil jepretan kameranya. Namun dari segala gemerlap dan keindahan tersebut, Kota Bandung masih memiliki segudang permasalahan yang belum terselesaikan dengan baik. Salah satunya mengenai sampah.

Kebersihan Kota merupakan hal yang sangat penting, merupakan tanggung jawab masyarakat sekitar dan pemerintah dalam menjaganya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan kebersihan di Kota Bandung. Namun faktanya sampah masih menjadi permasalahan besar yang belum terselesaikan. Ribuan ton sampah setiap harinya dihasilkan masyarakat setempat. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sepertinya sudah tidak lagi mampu menampung luapan sampah Kota tercinta ini. Akibatnya, sungai-sungai dan lingkungan setempat menjadi tercemar. Ironisnya, Kota Bandung dinyatakan sebagai Kota Metropolitan terkotor di Indonesia. Berbagai julukan negatif pun tersebar luas seperti “Bandung Lautan Sampah” (news.detik.com), “Bandung Kota Sampah” dan sebagainya.

Meninjau dari fakta-fakta tersebut di atas, sebagai masyarakat khususnya warga Kota bandung sebaiknya mulai bergerak dalam aksi nyata untuk mengatasi permasalahan sampah. Mari bersama kita pikirkan cara-cara inovatif dan efektif yang kemudian diaplikasikan untuk menciptakan Bandung (BUKAN) Lautan Sampah.